Adaptasi Postur

 

Kunci keberhasilan yang ke dua adalah adaptasi postur tubuh.

Layaknya bayi yang baru lahir, dia akan beradaptasi dengan dunia baru yaitu daratan.

Saat ini pun kita harus beradaptasi lagi dengan lingkungan air.

Sebenarnya banyak sekali teknik adaptasi postur di air, namun saya akan memberikan dasar paling utamanya saja yang sering kali kurang diperhatikan oleh sebagian kita.

 

 

Yang pertama..

Apakah setiap kali mengapung dengan posisi terlungkup, kaki anda tenggelam ?

Jika ya, coba koreksi posisi kepala anda..

Kesalahan kecil namun berdampak besar yang dilakukan oleh pemula, adalah berusaha melihat depan.

Ini menyebabkan kepala sedikit menengadah sehingga tulang belakang tertekan ke bawah.

 

COBA LAKUKAN DENGAN MELIHAT KE DASAR KOLAM, ANDA AKAN MERASAKAN PERBEDAANNYA

 

 

Yang kedua..

Apakah setiap kali mengapung dengan posisi terlentang, kaki anda tenggelam?

Jika ya, sekali lagi koreksi posisi kepala anda.

Kesalahan yang sering terjadi kerena berusaha melihat kaki..

 

COBALAH MELIHAT KE ATAS, DAN USAHAKAN TELINGA MASUK KE DALAM AIR, ANDA AKAN MERASAKAN PERBEDAANNYA

 

 

Yang ketiga….

Apakah anda sulit mengapung saat melakukan treading water, padahal buoyancy anda positif?

Coba rubah pola fikir anda..

Banyak sekali perenang saat melakukan treading water, berusaha agar seluruh kepala bahkan bahu keatas berada di atas permukaan air.

Khusus yang ini saya sulit menjelaskannya karena berhubungan dengan hukum-hukum fisika seperti archimedes, tekanan, buoyancy dll.

Tapi intinya, gunakan pelampung alamiah kita yaitu paru-paru dengan se maksimal mungkin

 

COBALAH MERUBAH LEVEL PERMUKAAN AIR MENJADI HANYA SEBATAS DAGU, ANDA AKAN MERASAKAN PERBEDAANNYA

 

 

Masih banyak bentuk adaptasi postur yang harus dipahami, namun itu semua pengembangan dari ketiga teknik di atas.

Silahkan mencoba, Jangan lupa untuk berdoa, peregangan dan pemanasan sebelum masuk kolam renang.

Yang paling penting, di saat anda belajar hendaknya ditemani oleh pelatih pribadi, teman atau saudara anda..

Pahami napas anda

Adaptasi pernapasan merupakan kunci utama dari keberhasilan dalam belajar renang. Hal ini berhubungan dengan sedikit merubah kebiasaan namun tetap se-natural mungkin.

 

PAHAMI NAPAS ANDA

Ada beberapa pengetahuan yang sangat mendasar yang akan kita bahas.

Yang pertama…

Tariklah napas anda kemudian tahan.

Buka mulut anda sambil menahan napas.

Keluarkah udaranya ? tentu tidak

JADI TIDAK PERLU TAKUT JIKA MULUT ANDA KEMASUKAN AIR

 

Yang kedua…

Tarik napas biasa kemudian tahan selama mungkin anda bisa.

Hitung berapa lama anda dapat menahan napas ? (menggunakan jam apa saja asal jangan jam pasir atau jam rusak)

Sudah ?

Sekarang ulangi sekali lagi namun dengan menarik napas yang dalam.

Bandingkan hasil keduanya.

Bagaimana hasilnya? Ajaib kan…

Anda mungkin tidak menyangka bahwa ternyata lebih lama yang pertama.

Mengapa?

Karena jika paru-paru terlalu meregang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

JADI TIDAK PERLU MENARIK NAPAS YANG DALAM SAAT BERENANG

 

Yang ketiga…

Hitung frekuensi napas anda permenit. Catat hasilnya.

Kemudian tarik napas dan tahan selama mungkin anda bisa.

Sudah ?

Sekarang, hitung lagi frekuensi napas anda permenit.

Bandingkan kedua hasilnya.

Lebih cepat yang mana ?

Benar .. lebih cepat yang kedua

Mengapa ?

Karena tubuh hanya mengambil 4 – 5% saja dari 20% kadar oksigen tiap kali kita hirup. Tubuh akan memerintahkan paru bekerja lebih cepat jika merasa kekurangan oksigen.

JADI KURANGI KEBIASAAN MENAHAN NAPAS JIKA SEDANG BERENANG


Kenali Tubuh Anda

Mungkin pernah timbul pertanyaan di dalam benak anda, mengapa kok orang lain mudah sekali belajar berenang , hanya dalam waktu singkat sudah bisa renang, sedangkan anda yang sudah berusaha lebih keras dan lebih lama tetap tidak bisa berenang juga.

 

Perlu difikirkan mungkin anda dikutuk… 😀

 

Mudah atau tidaknya seseorang belajar renang, tergantung dari daya apung (buoyancy) nya. Buoyancy setiap individu berbeda-beda tergantung dari berat jenis dan tingkat kerapatannya (Archimedes). Oleh sebab itu, anak kecil akan berbeda dengan orang dewasa, yang berotot akan beda dengan yang gemuk, yang kapasitas paru-parunya besar akan beda juga dengan yang kapasitas parunya kecil.

 

Buoyancy dikatakan positif jika mengapung dan negatif jika tenggelam. Namun juga ada yang diantaranya (melayang).

 

Buoyancy positif mudah untuk belajar renang, namun sulit menyelam. Sedangkan buoyancy negatif sebaliknya.

 

Yang manakah anda ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus tau cara menilainya.

  1. Tarik napas, kemudian tahan
  2. Posisikan badan terlungkup di permukaan air dengan wajah di dalam air
  3. Perlahan angkat kaki, sehingga membentuk posisi “jellyfish float”
  4. Mintalah rekan anda untuk menilai mengapung atau tenggelam

 

Bagaimana jika ternyata buoyancy saya negatif ?

Hmm… ternyata anda benar-benar dikutuk.. 😀

 

Seperti yang sudah saya bilang, JANGAN BERKECIL HATI. Karena saya akan memberikan beberapa tips untuk membantu anda.

Pahami Rasa Takut Anda Terhadap Air

Cukup banyak orang yang berani memasukkan kaki atau badan mereka ke dalam air, namun tidak berani memasukkan wajah mereka ke dalam air. Mengapa ? Jawabannya adalah hidung dan mulut. Kedua organ ini lah yang berhubungan langsung dengan kebutuhan akan bernapas. Selain itu terdapat indra-indra lainnya yang ikut memperbesar rasa takut kita terhadap air yaitu mata dan telinga.

Hidung dan mulut

Hidung dan mulut merupakan pintu paling luar dari saluran pernapasan. Mereka memiliki muara yang sama yang kemudian mengarah ke saluran pernapasan ( trachea ). Oleh sebab itu kita bisa menggunakan keduanya dalam proses bernapas.

Hidung merupakan organ tubuh yang memiliki sensitifitas cukup tinggi terhadap rangsangan dari benda asing. Satu tetes air saja, jika masuk ke dalam lubang hidung sudah cukup untuk membuat rasa yang sangat perih dan menusuk di hidung. Kondisi ini lah yang paling sering menyebabkan kita masuk ke fase panik. Sedangkan mulut tidak se-peka hidung terhadap rangsangan dari benda asing, sehingga tidak akan menjadi masalah jika kemasukan air.

Untuk mengatasi kendala ini, maka latihlah untuk menarik napas melalui mulut dan menghembuskannya melalui hidung. Latih juga teknik adaptasi pernapasan yang lain sehingga anda semakin merasa nyaman di air. Latih teknik napas ini setiap kali memasuki kolam.

Mata

Seperti hidung, mata pun memiliki kepekaan yang cukup tinggi terhadap rangsangan benda asing. Selain rasa perih, mata juga dipersenjatai dengan sebuah gerakan reflek yaitu reflek kornea. Jika ada benda asing menyentuh kornea kita, maka secara otomatis kelopak mata akan menutup. Hal ini berlaku juga untuk air. Sebenarnya ini merupakan reflek alami mata untuk menghindari mata dari benda asing yang berbahaya.

Kepekaan rangsangan dapat kita kurangi dengan membiasakan diri untuk membuka mata di dalam air. Tentu saja apabila kualitas air tempat kita berenang tidak begitu baik, jangan memaksakan diri untuk membuka mata. Menggunakan kacamata renang merupakan solusi yang bijaksana.

Mengapa mata harus terbuka ?

Pernahkah anda memasuki sebuah ruangan yang belum anda kenal dan gelap gulita, kemudian anda merasa sesak napas seakan-akan sedang memasuki ruangan yang sempit. Padahal ketika lampu dinyalakan ternyata ruangannya besar. Rasa sesak napas tadi merupakan manifestasi dari perasaan cemas , belum lagi bayangan yang aneh-aneh muncul di dalam pikiran kita sehingga menambah rasa cemas. Hal ini juga berlaku jika kita di dalam air. Melihat suasana di dalam air merupakan syarat mutlak dalam proses adaptasi.

Telinga

Tidak sedikit orang yang ragu untuk berenang karena takut telinga kemasukan air. Mereka khawatir air yang masuk ke dalam telinga akan masuk ke bagian dalam telinga sehingga mengganggu pendengaran. Untuk menjawab pertanyaan ini silahkan melihat gambar di bawah.

Anatomi telinga (gambar milik virtualmedicalcentre.com)

Kita lihat bahwa organ dalam telinga tidak berhubungan langsung dengan udara luar karena dibatasi oleh sekat yang kita sebut gendang telinga ( ear drum ), sehingga air yang masuk ke lubang telinga tidak bisa masuk ke organ dalam telinga. Kecuali pada orang-orang yang gendang telinganya sudah robek. Pada keadaan ini penggunaan ear plug akan sangat membantu.

Rasa takut

Pada dasarnya perasaan takut terhadap air karena kita menghadapi lingkungan yang baru. Saat di dalam air, kita akan melihat hal yang berbeda, kita akan mendengarkan hal yang berbeda, kita akan merasakan sensasi yang berbeda. Hal-hal yang berbeda inilah yang sering meningkatkat kecemasan.

Pawang macan bisa mengatasi rasa takutnya terhadap macan asuhannya karena beliau kontak langsung dengan si macan untuk mempelajari dan memahami karakter dari si macan. Kapan dia lapar, kapan dia ganas, kapan dia birahi tinggi dan bagaimana menaklukkannya.

Begitu juga air. Jika kita ingin memahami air maka harus berada di dalam air, jangan melihat hanya dari permukaan saja. Masukkan wajah anda kedalam air, dan nikmati perbedaan yang kita rasakan. Jangan kaget bila perbedaan yang kita rasakan itu membuat kita jadi ketagihan.